Asal Usul Pulau Tiban, Kendal

Jalan-jalan Pulau Tiban - 06Pie kabare Lur,..?

Nyambung sama tulisan saya sebelumnya, saat jalan-jalan ke Pulau Tiban saya berkesempatan mendapat informasi mengenai asal usul pulau Tiban dari pak Joko Basuki, mantan Kepala Desa Kartika Jaya sekaligus anggota Kelompok Sadar Wisata Kartika Beach yang bertugas mengelola kelestarian pulau. Beliau juga yang menjadi Nahkoda Speed Boat yang saya naiki dan rombongan keluarga.

Begitu kapal ditambatkan di dermaga Pulau Tiban, keluarga saya bergegas berkeliling pulau menikmati suasana. Ada yang bermain pasir, keceh gelombang air laut, atau malah mengumpulkan kulit kerang seperti nenek saya, tapi saya sendiri memilih berbincang dengan pak Joko dulu mengenai asal usul Pulau Tiban.

Jalan-jalan Pulau Tiban - 14Menurut pak Joko, awalnya desa Kartika Jaya yang terletak di pinggir laut mengalami ancaman abrasi. Karena pemanasan global, terjadi kenaikan air laut, sehingga tambak produktif menjadi rusak. Pak Joko menjelaskan bahwa sekitar 5 tahun lalu muncul sebuah gundukan pasir di daerah yang sekarang menjadi pulau Tiban. Ketika musim angin barat gundukan itu muncul, ketika musim angin timur gundukan hilang. Warga lalu menanami gundukan yang sudah ditumbuhi rumput dengan pohon cemara. Pertumbuhan pohon jenis ini cukup cepat, dalam 6 bulan sudah kelihatan besar. Bahkan ternyata cemara laut ini bisa hidup hingga 2 tahun. Warga desa Kartika Jaya yang perhatian dengan masalah lingkungan memperpanjang areal penanaman cemara. Ternyata keberadaan cemara ini memperkuat adanya daratan pulau. Jadi misi warga melakukan upaya ini adalah untuk membuat sabuk pantai alami guna melindungi desa Kartika Jaya dari ancaman gelombang pasang yang dapat menyebabkan abrasi. Guna memperkuat keberadaan daratan, warga lalu menanami tepi pulau Tiban dengan tanaman bakau. Selain warga banyak rekan komunitas pencinta lingkungan yang membantu, seperti contohnya komunitas mahasiswa Unnes, lalu dari Toyota juga menanam sekitar 40.000 tanaman bakau sebagai program CSR, kemudian dari pusat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menanam 400.000 pohon pada Desember 2015. Selain itu dari UGM juga pernah riset ke sini. Ada beberapa jenis tanaman bakau yang ditanam seperti ketapang, api-api, dan pancang (silakan yang ahli boleh koreksi, mungkin saya salah dengar istilahnya).

Jalan-jalan Pulau Tiban - 07Kalau saya memandang lepas, sebenarnya daratan pulau Tiban ini tidak terputus dari daratan desa Kartika Jaya. Boleh dibilang sebenarnya ini adalah semenanjung, namun kenapa disebut sebagai pulau?

Pak Joko kembali menjelaskan bahwa areal daratan yang disebut sekarang sebagai pulau Tiban ini bila ditarik memang menyambung dengan daratan di pantai, namun akses menuju ke sana dipisahkan oleh hutan bakau. Nah, hutan bakau ini adalah milik perorangan yang sebagiannya merupakan tambak, sehingga dirasa tidak etis kalau orang umum lewat di sana. Dikhawatirkan mengganggu kerja mereka. Selain itu akses jalan juga rusak.

“Kami sendiri juga bingung saat mau memberi nama apa pulau ini. Istilah Tiban dipilih agar kesannya menarik. Walau sebenarnya keberadaannya tidak tiba-tiba tapi dengan proses lama. Orang penasaran, namun bukan maksud menipu, tapi agar lebih dikenal. Selain itu memang kalau kondisi air laut pasang, pulau ini terpisah dari daratan,” jelas pak Joko.

Jalan-jalan Pulau Tiban - 04Sekali lagi pak Joko menegaskan bahwa misi dirinya dan anggota kelompok sadar wisata yang lain adalah untuk memberdayakan potensi pulau ini sebagai sabuk pantai, sehingga desanya terselamatkan dari ancaman gelombang yang menyebabkan abrasi. Mereka mempersilakan Pemerintah apabila mau melihat sebagai obyek wisata dan ikut berperan. Karena kalau pulau ini dikelola secara pribadi hanya orang-orang yang memiliki tambak tentunya mereka tidak akan mampu, dan pembiayaannya tidak murah, bahkan bisa menghabiskan ratusan juta atau milyaran.

Pak Joko melanjutkan bahwa pihaknya sudah menginformasikan kepada pemerintah untuk peningkatan potensi wisata pulau. Hampir semua SKPD sudah berkunjung ke tempat ini, dari dinas pendidikan, lingkungkan hidup, namun dari agraria belum. Bahkan kapal yang Jalan-jalan Pulau Tiban - 10saya naiki menuju pulau ini menurut pak Joko merupakan sumbangan dari KKP. Saya sendiri melihat belum ada bangunan permanen di sana, hanya semacam tempat singgah sederhana untuk nelayan. Di siang hari ada penjual makanan & minuman yang membuka lapak, serta ada toilet sederhana di dekat situ. Pak Joko bilang pihaknya juga bikin sumur. Swadaya. Pelan-pelan.

Keberadaan pulau Tiban yang sebenarnya berproses ini menarik juga bagi saya. Banyak potensi yang bisa dikembangkan. Saya sempat juga berbincang dengan pihak Dinas Pariwisata di lain waktu. Rangkumannya, yang dilengkapi juga perbincangan dengan pak Joko akan saya tampilkan di tulisan berikutnya. Ditunggu wae ya lur,..

ditulis oleh @yozarremixer untuk KelilingKendal.com
penulis adalah Novelis, DJ, dan Humas

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *