Kawasan Industri Kendal : Harapan dan Tantangan

Bupati Kendal Mirna 03Menurut informasi dari media kompas online (18/8/2016), Kawasan Industri Kendal (KIK) merupakan proyek kerja sama antara PT JABABEKA Tbk dan Sembcorp Ltd. Singapura. Kawasan Industri di Kendal tersebut memiliki luas 2.200 hektar dan akan menjadi basis produksi garmen, suku cadang otomotif, kosmetik dan lain sebagainya. Proyek ini diharapkan dapat menjadi basis ekonomi di Jawa Tengah dan ikon kerja sama kedua negara yang mendorong munculnya kerja sama serupa di berbagai wilayah Indonesia.

Berdasarkan kerjasama di atas, dilihat dari kualitas perusahaan dan kerjasama antar negara, serta hamparan yang sangat luas, tentu kerjasama ini melahirkan harapan yang sangat besar bagi peningkatan perekonomian dan kesejahteraan di wilayah Kabupaten Kendal pada khususnya, dan provinsi Jawa Tengah serta. Tentu semua itu baru akan tercapai apabila rencana dapat dilaksanakan dengan lancar dan sesuat target awal. Namun, kita perlu pula mencermati bagaimana kondisi terkini di rencana kawasan tersebut dan sekitarnya, serta perlunya mengantisipasi berbagai dampak yang dapat ditimbulkan. Hal ini penting sebagai masukan bagi para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan, pengembangan dan pengawasan KIK tersebut. Beberapa hal yang perlu dicermati adalah sbb. :

KIK - 06b1. Pengurukan (penimbunan) lahan yang dominan tambak kedalaman 2 meteran menjadi kawasan KIK membutuhkan material tanah setinggi 4 meter. Asumsinya 2,5 meter akan terbenam dan 1,5 meter di atas permukaan tanah.
Jika luas KIK 2200 ha, maka kebutuhan volume tanah uruk adalah : 2.200 x 4 x 100 x 100 = 88 juta M3.
Jika volume dumtruck @ 8 M3, asumsi jumlah dumtruck 100 buah dan per hari bisa 8x pengangkutan, maka dibutuhkan 13.750 hari (setara 38 tahun) pengurukan nonstop. Tentu waktu bisa dipercepat dengan menambah jumlah dumtruck. Jika ada 200 dumtruck, maka waktunya menjadi 19 tahun.
Jika asal tanah berasal dari bukit dengan volume 100 m3 (luas 1 ha, tinggi 100 m), maka membutuhkan 88 bukit untuk ditambang.
Jika saat ini baru 20an hektar saja yang sudah diuruk, maka PR untuk pengurukan ini sangat penting untuk dipercepat, tetapi tetap aman dan lancar.

2. Jika setiap pabrik membutuhkan rata-rata luasan 10 ha, maka KIK mampu menampung 220 pabrik. Jika masing-masing jumlah pekerjanya 2.000, maka KIK mampu menampung 440.000 pekerja, yang tentu diharapkan dominan dari masyarakat Kabupaten Kendal. Jika pendapatan gaji/honor buruh mendekati nilai pendapatan dari TKI pada umumnya, maka hal ini akan mampu menekan jumlah TKI yang keluar negeri dan menciptakan lapangan kerja di wilayah dekat tempat tinggal masing-masing.

3. Jika asumsi no 1 terkait perkiraan 88 bukti yang ditambang (Galian C), maka perlu upaya antisipasi terkait perubahan rona lahan dan kegiatan reklamasi pasca tambang. Perlu kita ketahui bahwa kebanyakan lahan pasca tambang jarang yang direklamasi, sehingga menimbulkan banyak kerusakan lingkungan dan merugikan masyarakat sekitarnya.

4. Jika asumni no 1 dikaitkan dengan proses transportasi dari lokasi penambangan ke KIK, maka perlu upaya perawatan dan pengawasan terhadap keamanan dan kerusakan jalan.

5. Sebagian besar masyarakat kendal saat ini mengeluhkan kondisi jalan yang rusak. Tentunya dibutuhkan penedulian nasional dan provinsi untuk alokasi anggaran dalam memperbaiki jalan-jalan di wilayah Kabupaten Kendal, sehingga meningkatkan roda ekonomi dan kenyamanan warganya.

KIK - 016. Jika asumsi no 2 terjadi, maka ada sekitar 220 pabrik yang akan beroperasi. Pengaman dan pengendalian lingkungan hidup seperti dokumen UKL/UPL, AMDAL, IPAL dll harus diimbangi dengan pengawasan yang ketat karena limbah berpotensi mencemari perairan pesisir Kabupaten Kendal.

7. Proses pembangunan dan pengembangan KIK menghadapi tantangan dalam pembebasan lahan, terutama menghadapi para mafia tanah dan spekulan, serta perijinan. Pengawasan terhadap internal dan eksternal perlu dilakukan dengan cermat dan ketegasan tanpa pandang bulu. Kenapa? karena KIK bukan hanya milik Kendal, tetapi juga menjaga nama baik provinsi dan nasional.

8. Pembinaan dan pendampingan terhadap peluang dana CSR perlu dilakukan sejak awal, sehingga masyarakat sekitar KIK mampu merasakan peningkatan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan dengan keberadaan KIK ini.

Harapan dan tantangan ini perlu dijadwalkan target jangka pendek per tahun dan jangka menengah 5 tahunan.

Semoga rencana dan pelaksanaan KIK berjalan dengan lancar dan mendorong perekonomian serta kesejahteraan bangsa Indonesia.

Ditulis Oleh: Muhamad Kundarto, Dosen Pertanian dan Lingkungan at Dosen UPN “Veteran” Yogyakarta
Diposting pada 19 Agustus 2016 di https://web.facebook.com/groups/kabupatenkendal
http://asmorojiwo.blogspot.co.id/
https://web.facebook.com/groups/kabupatenkendal/permalink/10153826014817467/?notif_t=tagged_with_story&notif_id=1471580832326760

Foto by: Anton Munajat & Muhammad Albar Hakim
https://web.facebook.com/anton.munajat
https://web.facebook.com/anton.munajat/posts/1421992977827756?pnref=story
https://web.facebook.com/Albareinstein?fref=nf

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *