Inspirasi Hujan

Saat masih anak-anak dulu, saya tinggal di daerah yang cukup jauh dari kebisingan industri dan hiruk pikuk mall, serta modernitas masa kini. Meskipun bukan daerah yang pelosok, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ada di dekat jalan raya jalur pantai utara jawa (pantura), saya mendapat keberuntungan untuk bisa berteman dengan alam. Salah satu fenomena yang berkesan adalah hujan.

Banyak memori masa kecil saya yang berkaitan dengan hujan. Saat itu terjadinya musim hujan masih teratur, yaitu sekitar bulan Oktober pada suatu tahun hingga April di tahun depannya. Satu yang saya ingat adalah hujan yang harus saya hadapi ketika hendak sekolah.

Tempat belajar saya saat itu adalah sebuah SD yang ada di dalam kampung. Dari rumah orang saya yang ada di tepian jalan raya, kira-kira sekitar 1 kilometer untuk sampai di sana. SD Negeri Cepiring 2 namanya. Saya biasa jalan kaki berangkat dan pulang sekolah. Di perjalanan menuju sana, saya tak hanya melewati rumah penduduk. Masih ada banyak kebon milik penduduk. Kebon adalah lahan yang dibiarkan pemiliknya untuk ditumbuhi tanaman semak belukar dan jarang terawat. Terkadang di kebon ada juga tanaman yang bisa diambil manfaatnya seperti pohon buah pisang, pohon melinjo, pohon petai cina, apa saja, baik bisa ditanami pemilik kebon atau asal tumbuh sendiri karena anugrah alam. Setiap musim hujan, saat yang berangkat atau pulang sekolah melewati kebon-kebon itu, hampir selalu terdengar suara katak atau kodok.

Kung-kong! Kung-kong! Kung-kong!

Krok! Krok! Krok!

Roooook, kok-kok-kok-kok!

Macam-macam bebunyian kodok-kodok itu. Kadang-kadang ada juga kodok yang melompat, melintas jalan setapak berbatu yang saya lalui. Saya berusaha menghindar dari lompatan mereka. Bukan karena takut, tapi menghindari mereka agar tidak terinjak. Wujudnya pun bermacam-macam, warna warni juga, umumnya sih hijau, lalu seperti warna tanah, dengan bintik-bintik. Saat itu saya belum tahu mereka masuk dalam spesies atau ordo apa. Pelajaran SD belum sampai ke situ. Yang pasti keberadaan mereka membuat hati saya riang. Tak masalah meskipun kadang terpercik air pakaian jadi sedikit basah.

Hujan juga menemani waktu bermain saya usai sekolah. Sela beberapa rumah ke arah selatan dari rumah orangtua saya ada sebidang tanah yang cukup lapang. Ada beberapa pohon pisang yang tumbuh namun cukup renggang letaknya. Di sana saya dan beberapa teman tetangga suka sekali bermain bola dibawah guyuran air langit. Teman-teman senang bertelanjang dada, namun saya lebih suka berpakaian lengkap. Sesekali kita jatuh di genangan air saat hendak menendang atau karena harus saling menyepak kaki karena berebut bola. Namun semuanya tertawa. Tak ada yang marah meskipun baju kotor karena tanah. Entah bagaimana mereka menghadapi ibu masing-masing di rumah.

Namun kami pun pernah juga mengalami susah di kala hujan. Daerah kami dilewati aliran sungai yang bernama Kali Bodri. Dia yang membelah Kecamatan Cepiring dengan Kecamatan sebelah timur, yaitu Patebon. Ketika itu, kalau tidak salah tahun 1991 air langit turun dengan derasnya. Januari, hujan berhari-hari tanpa henti. Orang-orang tua cemas, sedangkan saya dan teman-teman tak begitu peduli karena tak mengerti apa yang akan terjadi. Hujan bagi kami adalah kesenangan. Hujan berarti enak makan gorengan yang panas. Hujan adalah suasana bermain yang berbeda. Hujan juga enak untuk tidur siang, yang biasanya kami dipaksa ibu pun tak mau. Namun hujan kali ini lain.

Sehabis semalaman yang hujan deras, di suatu Subuh saya dan orangtua melihat orang-orang yang berjalan di jalan raya depan rumah kami, dari arah selatan. Ada yang sendiri, namun umumnya berombongan. Orangtua bersama anak-anaknya.

“Banjir! Banjir” teriak mereka.

Sesekali terdengar kentongan bambu dipukul dalam irama tertentu.

Tak lama kemudian kami melihat air yang mulai berangsur menggenang. Saya bersama bapak, ibu dan adik perempuan satu-satunya bergegas menutup pintu, lalu menyumbat sela bawah pintu-pintu rumah. Menyumpal sela itu dengan gulungan koran, kain, apa saja yang bisa dipergunakan. Namun usaha itu sia-sia. Air tanpa ampun menyeruak masuk ke dalam rumah. Setelah berdiskusi dengan ibu, Bapak mengkomando kami untuk memindahkan barang-barang yang penting seperti dokumen, sertifikat atau yang mudah rusah oleh air ke atas lemari. Ibu menyiapkan beberapa tas yang diisi pakaian ganti semua. Sembari kami bekerja, bapak pergi ke luar. Tentunya bukan bermaksud untuk meninggalkan kami. Ternyata beliau memanggil seorang tukang becak baik hati yang di saat bencana seperti ini masih berkenan menolong.

Setelah berkemas-kemas, semua beres dan sebelum air makin tinggi, kami pergi meninggalkan rumah yang sudah terkunci. Bapak ternyata mengajak kami untuk pergi mengungsi ke rumah nenek, kampung halamanya di desa Gebang, Kecamatan Gemuh yang termasuk pedalaman, dan cukup jauh dari daerah aliran sungai. Beliau sebenarnya berspekulasi, namun Alhamdulillah di sana kami aman.

Sampai sekarang pun saya terkadang merasa harap-harap cemas ketika terjadi hujan. Harapannya adalah agar tanggul Kali Bodri tidak lagi bedah atau jebol. Kasihan orangtua saya maupun penduduk yang daerahnya berpotensi terkena dampak air bah. Dimana mereka harus mengungsi? Dimana harus makan, dimana harus buang air, dimana harus tidur kalau terjebak bencana banjir?

Saya hanya bisa berharap dan berdoa. Berharap tentunya kepada saudara-saudara kita yang rumahnya dekat aliran sungai untuk tidak sembarangan membuang sampah yang mengakibatkan tersumbatnya aliran air, berharap pada pemerintah untuk bisa mengeruk tanah/pasir sungai yang mengalami pendangkalan seperti yang dilakukan pemerintah DKI pada sungai ciliwung, berharap juga pada Yang Maha Kuasa agar alam ramah sehingga debit air hujan tidaklah terlalu banyak dan berturut-turut sehingga tanah berkesempatan untuk mengandungnya. Hujan akan selalu menginspirasi. Mari kita cintai alam, maka alam pun akan menjaga kita.

Sumber gambar:
http://blog.act.id/wp-content/uploads/2015/08/berkah-hujan-kemarau.jpg

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *