Pasar Karetan, Destinasi Wisata Kekinian, Angkat Kearifan Lokal

Ciri khas orang zaman now adalah selalu mencari dan mencoba sesuatu yang baru. Orang zaman now juga makin banyak yang sadar wisata. Setelah sibuk bekerja atau belajar seminggu penuh, orang butuh tempat pelarian untuk memandang dan menikmati kesegaran alam. Hal itulah yang ditawarkan oleh Generasi Pesona Indonesia Jawa Tengah (Genpi Jateng) melalui event mingguan Pasar Karetan yang terletak di Radja Pendapa, Dusun Segrumung, Meteseh, Boja, Kendal.

Di Pasar Karetan para pengunjung bisa menikmati suasana alam pedesaan di tengah hutan karet yang ditata sedemikian rupa dan dilengkapi pasar tradisional. Orang bisa melihat sawah, kolam ikan, kandang bebek dan kandang sapi. Dengan suhu udara yang sejuk dan naungan pepohonan rindang, pengunjung tak perlu khawatir terkena sengatan sinar matahari. Kemudian di titik-titik tertentu terdapat penjual kuliner tradisional khas seperti pepes wader, bandeng bakar, pecel sayur, gubuk kopi, cafe telo, degan, aneka dawet, wedang rempah, lumpia, bakso bathok mlumah, nasi jagung, soto pandanaran dan lain sebagainya. Mata uang yang digunakan dalam perdagangan di sini adalah Girik, yaitu koin kayu dengan nominal tertentu dari 2,5 yang bernilai Rp2.500,-; 5 bernilai Rp5.000,-; dan 10 bernilai Rp10.000,- Dijual pula slayer rajutan dan mainan dari bambu. Pengunjung juga bisa mencoba permainan tradisional seperti egrang, bakiak, memanah, mewarnai layangan dan lain-lain.

Setiap minggunya Pasar Karetan mempersilakan berbagai komunitas untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat di panggung utama. Seperti saat kelilingkendal.com berkunjung di Pasar Karetan #6, tampil komunitas Gadis Hammockers yang memberi pemahaman tentang hobi menggunakan hammock alias tempat tidur gantung yang biasa dipasang diantara 2 pohon atau tiang. Banyak spot menarik yang bisa digunakan untuk berswafoto ataupun bersama-sama di tempat ini.

Asal-Usul Pasar Karetan
Menurut Shafigh, mantan Ketua Genpi Jateng yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Genpi tingkat nasional, pasar karetan dimulai sejak November 2017. Beberapa bulan sebelumnya, Genpi Jateng bertemu dengan pemilik Radja Pendapa. Semula Radja Pendapa merupakan rumah contoh dari usaha gebyok dan rumah tradisional dari sang pemilik, dan menjadi tempat berkumpul komunitas Genpi Jateng. Dalam sebuah diskusi, tercetus ide untuk menjadikan tempat yang memiliki potensi ini menjadi sebuah destinasi wisata baru. Banyak pihak dilibatkan untuk bersama-sama membangun, seperti menetapkan visi misi, menggandeng seniman payung, dan melibatkan masyarakat sekitar.

Untuk mencapai tempat ini memang perlu upaya ekstra karena jaraknya lumayan jauh dari kota seperti Semarang. Perlu lebih banyak papan petunjuk jalan. Memakai aplikasi Google Map juga bisa. Akses jalan sudah cukup dapat dilalui, namun di musim hujan terkadang perlu diperhatikan mengenai tanah yang tergenang air. Bagi pemilik mobil dapat memarkirkan kendaraannya di tempat khusus, dan nantinya diberangkatkan dengan kereta kencana, yang orang biasa mengenal sebagai odong-odong. Pasar Karetan memang baru seumur jagung alias 2 bulan, namun Shafigh mengklaim bahwa hingga Pasar Karetan #7 pengunjung setiap minggunya semakin bertambah dan mencapai 2.500 – 3.000 orang. Tentunya ke depannya perlu dimunculkan hal-hal baru dan lebih menarik agar semakin banyak pengunjung yang datang, dan kembali lagi ke tempat ini, seperti misalnya penyediaan penginapan, homestay atau camping, wahana jelajah hutan, dan lain sebagainya.

Bagikan:

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *