Industri Tas SINTAK Truko Kendal, Produksi Tas ASI Sampai Tas Mayat

Berada di jalur Pantura, yaitu tepatnya desa Truko, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal yang terkenal dengan Sate Kambingnya, terdapat sentra industri tas. Ada sekitar 15 pengusaha dengan lebih dari 150 penjahit yang tergabung dalam Paguyuban Sintak (Sentra Industri Tas Kendal) Kendal. Demikian penjelasan dari pak Nurkholis, Ketua Paguyuban Sintak Periode 2005-2016 saat ditemui kelilingkendal.com di kediamannya di dekat Lapangan Sepakbola Boentas, Truko, Kangkung pada Minggu, 19 Agustus 2018.

Menurut pak Nurkholis, kenapa masyarakat desa Truko banyak yang berkecimpung di usaha ini adalah karena menurutnya tas dibutuhkan dari bayi hingga orang meninggal. Karena itu Sintak mengerjakan berbagai macam tas, dari Tas ASI, Tas wanita, bahkan tas Mayat, tergantung pesanan pembeli. Namun produksi utama mereka sebenarnya adalah tas punggung atau tas ransel, dan tas troli yang banyak dibutuhkan Biro Umroh dan Haji. Rentang harga bervariasi, untuk tas suvenir di kisaran harga 50rb-300rb, Tas punggung 50rb-150rb, dan Troli 200-300rb.

“Profitnya bagus kita lihat. Dari bayi sampai meninggal semua butuh tas. Dari orang meninggal sampai bayi butuh tas. Tas ASI di dalamnya ada alumunium foil. Kalau panas lebih awet, dingin juga lebih awet. Kita bikin tas untuk mayat. Biasanya dari Dinas sosial. Lalu tas anak, TK, SD, SMP, SMA semua jenjang dewasa,” kata Pak Nurkholis.

Menurut pak Nurkholis, cikal bakal industri tas di daerah ini adalah dari paman iparnya yang bernama Anton, suami dari buleknya. Pak Anton berasal dari Tanggulangin, daerah pengrajin tas Jawa Timur. Semula pak Anton dan bibi pak Nurkholis pada tahun 80an usaha tas di Jakarta, namun pada tahun 90an kembali ke Kendal dan memproduksi tas di sini. Hal tersebut membuat pak Nurkholis dan para tetangga di desa Truko ikut berkecimpung di usaha ini. Awalnya dulu memang penjahit berasa dari luar kota, seperti Boyolali dan Pekajangan, Pekalongan. Namun sekarang sudah mendidik orang sini. Pengerjaan tersebar di rumah-rumah. Hari kerjanya adalah Senin-Sabtu, jam 8-16, dan libur pada hari Minggu. “Kalau borongan ya nggak ada preinya. Sampai jam 12 malam kadang masih kerja. Minggu pun ada yang kerja,” jelasnya.

Selanjutnya pada tahun 2005 pak Nurkholis membentuk paguyuban. Hal positif dengan adanya paguyuban diantaranya adalah menyamakan kebijakan untuk sales dan pekerja, terjalinnya hubungan dengan pemerintah. Karena melalui paguyuban inilah para pengusaha mendapatkan bantuan, seperti peralatan, modal, serta promosi, diajak pameran, sampai ke Jakarta dan Batam. “Saya Ketua Paguyuban sejak 2005 sampai dengan 2016, baru 2017-2018 diganti mas Sarifuddin, dan sebentar lagi akan ada pemilihan pengurus,” terang pak Nurkholis.

Berikutnya pak Nurkholis bercerita bahwa dengan adanya industri ini, sejumlah mahasiswa dari kampus ternama di Semarang seperti Unika Segijopranoto, Undip, dan UIN melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di sini. Selain itu usahanya juga sampai terdengar di kalangan pejabat seperti: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, anggota DPR RI yang dulunya atlet Tennis, Yayuk Basuki, bahkan Ketua MPR RI Zulklifli Hasan sampai memesan tas hingga 2.000 buah.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *