Panggung untuk Kendal

Saya sebenarnya bukan orang Kendal murni, meskipun KTP saya Kendal. Bapak saya, yang asli Kendal dari Kecamatan Gemuh, sedangkan ibu saya berasal dari Kota Magelang, yang kemudian setelah menikah, tinggal dan ber-KTP Kendal. Jadi saya sebenarnya berdarah campuran alias halfblood. Walaupun begitu cinta saya untuk Kabupaten ini jangan diragukan.
.
Bagi sebagian orang, Kendal adalah tempat mereka lahir, tinggal dan mencari penghidupan. Ada juga yang tinggal di Kabupaten ini, tapi mencari nafkah di kota sebelah. Sebaliknya juga bisa. Macam-macam lah variasinya.
.
Menjadi daerah yang bertetangga dengan ibu kota provinsi acapkali membuat Kendal dipandang sebagai kota nomor dua, kota pensiunan, ekstrimnya lagi tidak terlalu penting. Yang berjiwa ke-Kendal-an bakal emosi banget kalau dengar pernyataan terakhir, namun dilihat dari kenyataannya memang pamor Kendal selama dasarwarsa ini belum begitu bergema.
.
Ada yang bilang pemerintahnya tidak bisa mengelola dengan baik, ada yang bilang cari kerja di sini susah, dan ada yang bilang jalanannya banyak yang rusak. Akibatnya banyak warga kelahiran Kendal yang hijrah cari penghidupan di kota lain, dan bahkan memilih menjadi TKI/TKW kerja di luar negeri. Sebenarnya kondisi seperti ini juga dialami di daerah lain. Walaupun begitu, yang sudah pergi jauh pun banyak yang kangen dengan kampung halamannya.
.
Dengan segala problematika ini, apakah benar Kendal tidak bisa maju? Kalau kita amati belakangan ini, sebenarnya terlihat adanya geliat untuk lebih memajukan daerah ini. Jargon bali ndeso, mbangun ndeso yang sempat didengungkan pimpinan provinsi beberapa waktu yang lalu bisa jadi salah satu motivasinya. Selain itu dengan semakin meningkatnya pendidikan, terbukanya akses informasi dunia maya, dan perbaikan jalur transportasi serta berbagai infrastruktur lainnya, menjadikan orang tak harus pergi jauh mencari ilmu, mendapatkan barang, jasa atau pasar. Selain itu, kesadaran untuk cinta daerah, memproduksi, menggunakan dan mempopulerkan produk atau potensi daerah juga muncul. Dan tidak hanya di Kendal saja sebenarnya, gerakkan ini bisa diamati mulai tumbuh dimana-mana.
.
Jadi sebenarnya perlahan Kendal mulai tumbuh, seiring dengan perkembangan mental warga, berikut sarana dan prasarananya. Dari sisi infrastruktur tentu adalah kewajiban pemerintah, baik yang dananya dari pusat, provinsi, kabupaten, hingga desa. Sedangkan kita dari sisi gerakkan masyarakat, tentu harus lebih giat lagi. Penggunaan jasa atau konsumsi produk daerah sendiri, berkomunitas, saling bekerjasama, adalah faktor kunci yang perlu dibangun dan dilestarikan. Dengan bahan yang sudah baik dan matang, tentunya lebih siap untuk tampil ke permukaan.
.
Hal berikutnya yang penting adalah panggung. Orang tidak akan pernah mengenal Kendal kalau warganya diam saja. Panggung yang sudah ada dari zaman dahulu contohnya adalah event-event yang ditawarkan oleh pemerintah pusat dan provinsi, baik itu dalam tema pariwisata, umkm, industri, dan lain sebagainya. Itu adalah peluang yang baik, dimana Kendal dapat memperkenalkan diri ke dunia luar melalui saluran yang sudah disiapkan.
.
Namun panggung pun bisa diciptakan sendiri. Baik dari sisi pemerintah maupun komunitas dapat menghadirkan expo atau gelaran, yang memunculkan dan memperkenalkan potensi Kendal. Apa saja, baik dari sisi wisata, komoditi daerah, umkm, atau bahkan mungkin penemuan teknologi. Selain itu teknologi informasi juga mampu menjadi jembatan bagi orang luar mengenal Kendal. Gerakkan yang bersama dan masif didukung dengan sumber daya manusia yang berkomitmen akan membuat Kendal terlihat potensinya dan bergema.

Ini Alasan Bintang Hollywood Matt Damon Tiba-tiba Datang ke Kendal, Indonesia

Pada Kamis, 5 Juli 2018 lalu beredar foto bintang hollywood Matt Damon di berbagai grup WhatsApp warga Kabupaten Kendal. Di foto tersebut terlihat bintang film Jason Bourne itu bersama kru Hotel Sae.inn Kendal. Foto yang sama juga diupload di akun instagram resmi hotel @sae.inn
.
Dari penulusuran keliling kendal di grup FaceBook Kabupaten Kendal dan berbagai media online akhirnya diketahui bahwa Matt hadir dalam kegiatan BPR BKK Kendal untuk program kredit air dan sanitasi.
.
Seperti diketahui, Matt mengelola organisasi nirlaba water.org Organisasi nirlaba ini berkantor pusat di California USA dan bergerak di bidang sosial dalam rangka pemenuhan air bersih dan peningkatan sanitasi untuk daerah di negara-negara berkembang seperti Afghanistan, Ethiopia dan lainnya.
.
Menurut Direktur Utama PD. BPR BKK Kendal Akhmad Mundolin, Program Kredit BKK Air untuk Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPP-SPAM) sendiri sudah dimulai sejak tahun 2017. BP-SPAM merupakan program kredit yang diperuntukan bagi kelompok masyarakat di Kabupaten Kendal dengan plafon maksimal Rp50 juta tanpa agunan atau jaminan. Jangka waktunya sampai 36 bulan.
.
Kata Akhmad Mundolin: Pemanfaatan Kredit Air ini contohnya adalah untuk pembuatan sumur baru, penambahan kapasitas pelayanan, pembelian alat seperti penambaham pompa air dan lainnya. Menurutnya tujuan utama program ini adalah: agar masyarakat dapat terakses air bersih dengan biaya terjangkau karena SPAM ini dapat melayani ratusan KK terkait air bersih dengan biaya yang lebih murah.
.
Perwakilan Water.org memang sudah beberapa kali meninjauan program BP-SPAM dari BKK Kendal yang sudah berjalan. Sejumlah daerah yang sudah memanfaatkan program ini adalah BP-SPAM Tirto Lestari Desa Kalirandu Kecamatan Cepiring, BP-SPAM Kartika Tirta Desa Kartika Jaya Kecamatan Patebon, BP-SPAM Tirto Guna Desa Tejorejo Kecamatan Ringinarum, BP-SPAM Tirto Arum Sari Desa Tambaksari Kecamatan Rowosari, dan BP-SPAM Banyu Mukti Desa Tanjungsari Kecamatan Rowosari. Di Indonesia, sebelum ke Kendal, Matt mengunjungi PDAM Kabupaten Batang dan Koperasi Mitra Dhuafa di kawasan Lenteng Agung, Depok, Jawa Barat.

.
#kendal #kabupatenkendal #mattdamon #jasonbourne #air #kreditair #sanitasi #water #BPPSPAM #bkk #bintanghollywood #artishollywood
.
Referensi:
Akun IG @sae.inn
FB Group Kabupaten Kendal: Muhammad Kundarto; Irnawan Dony

BPR BKK Kendal Bantu Kebutuhan Air Bersih

Inspirasi Hujan

Saat masih anak-anak dulu, saya tinggal di daerah yang cukup jauh dari kebisingan industri dan hiruk pikuk mall, serta modernitas masa kini. Meskipun bukan daerah yang pelosok, Kecamatan Cepiring, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ada di dekat jalan raya jalur pantai utara jawa (pantura), saya mendapat keberuntungan untuk bisa berteman dengan alam. Salah satu fenomena yang berkesan adalah hujan.

Banyak memori masa kecil saya yang berkaitan dengan hujan. Saat itu terjadinya musim hujan masih teratur, yaitu sekitar bulan Oktober pada suatu tahun hingga April di tahun depannya. Satu yang saya ingat adalah hujan yang harus saya hadapi ketika hendak sekolah.

Tempat belajar saya saat itu adalah sebuah SD yang ada di dalam kampung. Dari rumah orang saya yang ada di tepian jalan raya, kira-kira sekitar 1 kilometer untuk sampai di sana. SD Negeri Cepiring 2 namanya. Saya biasa jalan kaki berangkat dan pulang sekolah. Di perjalanan menuju sana, saya tak hanya melewati rumah penduduk. Masih ada banyak kebon milik penduduk. Kebon adalah lahan yang dibiarkan pemiliknya untuk ditumbuhi tanaman semak belukar dan jarang terawat. Terkadang di kebon ada juga tanaman yang bisa diambil manfaatnya seperti pohon buah pisang, pohon melinjo, pohon petai cina, apa saja, baik bisa ditanami pemilik kebon atau asal tumbuh sendiri karena anugrah alam. Setiap musim hujan, saat yang berangkat atau pulang sekolah melewati kebon-kebon itu, hampir selalu terdengar suara katak atau kodok.

Kung-kong! Kung-kong! Kung-kong!

Krok! Krok! Krok!

Roooook, kok-kok-kok-kok!

Macam-macam bebunyian kodok-kodok itu. Kadang-kadang ada juga kodok yang melompat, melintas jalan setapak berbatu yang saya lalui. Saya berusaha menghindar dari lompatan mereka. Bukan karena takut, tapi menghindari mereka agar tidak terinjak. Wujudnya pun bermacam-macam, warna warni juga, umumnya sih hijau, lalu seperti warna tanah, dengan bintik-bintik. Saat itu saya belum tahu mereka masuk dalam spesies atau ordo apa. Pelajaran SD belum sampai ke situ. Yang pasti keberadaan mereka membuat hati saya riang. Tak masalah meskipun kadang terpercik air pakaian jadi sedikit basah.

Hujan juga menemani waktu bermain saya usai sekolah. Sela beberapa rumah ke arah selatan dari rumah orangtua saya ada sebidang tanah yang cukup lapang. Ada beberapa pohon pisang yang tumbuh namun cukup renggang letaknya. Di sana saya dan beberapa teman tetangga suka sekali bermain bola dibawah guyuran air langit. Teman-teman senang bertelanjang dada, namun saya lebih suka berpakaian lengkap. Sesekali kita jatuh di genangan air saat hendak menendang atau karena harus saling menyepak kaki karena berebut bola. Namun semuanya tertawa. Tak ada yang marah meskipun baju kotor karena tanah. Entah bagaimana mereka menghadapi ibu masing-masing di rumah.

Namun kami pun pernah juga mengalami susah di kala hujan. Daerah kami dilewati aliran sungai yang bernama Kali Bodri. Dia yang membelah Kecamatan Cepiring dengan Kecamatan sebelah timur, yaitu Patebon. Ketika itu, kalau tidak salah tahun 1991 air langit turun dengan derasnya. Januari, hujan berhari-hari tanpa henti. Orang-orang tua cemas, sedangkan saya dan teman-teman tak begitu peduli karena tak mengerti apa yang akan terjadi. Hujan bagi kami adalah kesenangan. Hujan berarti enak makan gorengan yang panas. Hujan adalah suasana bermain yang berbeda. Hujan juga enak untuk tidur siang, yang biasanya kami dipaksa ibu pun tak mau. Namun hujan kali ini lain.

Sehabis semalaman yang hujan deras, di suatu Subuh saya dan orangtua melihat orang-orang yang berjalan di jalan raya depan rumah kami, dari arah selatan. Ada yang sendiri, namun umumnya berombongan. Orangtua bersama anak-anaknya.

“Banjir! Banjir” teriak mereka.

Sesekali terdengar kentongan bambu dipukul dalam irama tertentu.

Tak lama kemudian kami melihat air yang mulai berangsur menggenang. Saya bersama bapak, ibu dan adik perempuan satu-satunya bergegas menutup pintu, lalu menyumbat sela bawah pintu-pintu rumah. Menyumpal sela itu dengan gulungan koran, kain, apa saja yang bisa dipergunakan. Namun usaha itu sia-sia. Air tanpa ampun menyeruak masuk ke dalam rumah. Setelah berdiskusi dengan ibu, Bapak mengkomando kami untuk memindahkan barang-barang yang penting seperti dokumen, sertifikat atau yang mudah rusah oleh air ke atas lemari. Ibu menyiapkan beberapa tas yang diisi pakaian ganti semua. Sembari kami bekerja, bapak pergi ke luar. Tentunya bukan bermaksud untuk meninggalkan kami. Ternyata beliau memanggil seorang tukang becak baik hati yang di saat bencana seperti ini masih berkenan menolong.

Setelah berkemas-kemas, semua beres dan sebelum air makin tinggi, kami pergi meninggalkan rumah yang sudah terkunci. Bapak ternyata mengajak kami untuk pergi mengungsi ke rumah nenek, kampung halamanya di desa Gebang, Kecamatan Gemuh yang termasuk pedalaman, dan cukup jauh dari daerah aliran sungai. Beliau sebenarnya berspekulasi, namun Alhamdulillah di sana kami aman.

Sampai sekarang pun saya terkadang merasa harap-harap cemas ketika terjadi hujan. Harapannya adalah agar tanggul Kali Bodri tidak lagi bedah atau jebol. Kasihan orangtua saya maupun penduduk yang daerahnya berpotensi terkena dampak air bah. Dimana mereka harus mengungsi? Dimana harus makan, dimana harus buang air, dimana harus tidur kalau terjebak bencana banjir?

Saya hanya bisa berharap dan berdoa. Berharap tentunya kepada saudara-saudara kita yang rumahnya dekat aliran sungai untuk tidak sembarangan membuang sampah yang mengakibatkan tersumbatnya aliran air, berharap pada pemerintah untuk bisa mengeruk tanah/pasir sungai yang mengalami pendangkalan seperti yang dilakukan pemerintah DKI pada sungai ciliwung, berharap juga pada Yang Maha Kuasa agar alam ramah sehingga debit air hujan tidaklah terlalu banyak dan berturut-turut sehingga tanah berkesempatan untuk mengandungnya. Hujan akan selalu menginspirasi. Mari kita cintai alam, maka alam pun akan menjaga kita.

Sumber gambar:
http://blog.act.id/wp-content/uploads/2015/08/berkah-hujan-kemarau.jpg