Alamat Sate Kambing Tegal Alfin Laka-Laka Kaliwungu

Ingin menikmati Sate Kambing ala Tegal di Kaliwungu, Kendal? Ada tuh warungnya, di Selatan jalan raya setelah rel kereta api, namanya Sate Kambing Tegal Alfin Laka-Laka. Memang sih kalau dari segi umur kambing, mungkin tidak semuda Batibul atau Balibul, namun rasanya tetap mantap punya.

Kalau dari spanduknya tertulis: warung makan ini juga masakan Gule, Sop, Tong Seng, dan Tauco. Dengan penawaran menarik paket hemat 25rb dapat komplit: nasi, 5 tusuk sate campur dan es teh. Selain itu warung ini juga menjual sate ayam kampung. Untuk minuman ditawarkan es teh, teh hangat, es jeruk, dan jeruk hangat. Menu tambahan yang bisa dipesan adalah Martabak Kue Bandung dan Samir, serta menerima pesanan Aqiqah dan Pesta.

Alamat Sate Kambing Tegal Alfin Laka-Laka Kaliwungu:

Jl. Raya Kaliwungu, Kendal
Arah ke Semarang, sebelah kiri jalan
Telp. 0877-3214-0666
Jam Buka: 10.00–22.00

Layar Tancap dari Rumah Kreatif Film Kendal dan Patungan Film di Jurasik

Jumat 1 Juni 2018, Balai Kesenian Remaja Kendal kembali menggelar acara Jurasik (Jumat Sore Asik). Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila dan Bulan Suci Ramadhan, nyatanya tidak menyurutkan semangat para warga Kendal khususnya para pemuda untuk melestarikan kesenian yang ada di kota ini. Malah, frekuensi peserta yang hadir di Jurasik kali ini lebih banyak dari biasanya. Alhamdulillah meskipun bulan puasa, semangat dan antusias dari temen-temen untuk acara Jurasik ini tetap luar biasa. Semoga acara ini semakin menambah keberkahan di bulan yang suci ini kata Tanjung selaku koordinator acara Jurasik.

Jurasik edisi ke-11 ini menghadirkan komunitas yang cukup terkenal di Kendal, yaitu Rumah Kreatif Film Kendal (RKFK) dan juga menampilkan sebuah hiburan akustik dari BKR n’ Friends. RKFK terkenal di Kabupaten Kendal karena karya-karyanya di dunia perfilman. Sebut saja film yang pernah menggegerkan khalayak pemuda Kendal dengan rilisnya film Pacar Bukan Bojo yang sempat di tayangkan di Gor Bahurekso Kendal beberapa waktu lalu. Atau yang baru-baru ini RKFK membuat film yang berjudul Reksa.

Usai sukses menggarap 2 film yang sempat booming di Kendal tersebut, RKFK kembali meneruskan karya-karyanya. Di Jurasik ini, selain untuk menjadi narasumber diskusi, RKFK juga memutarkan film pendek terbarunya yang berjudul Kisah Cinta Malam Ini, Manuk, dan Jalan Menuju Pulang.

Pemutaran film yang pertama yaitu film Kisah Cinta Malam ini yang menceritakan 2 sejoli yang menjalin sebuah hubungan asmara. Kisah Cinta Malam Ini bercerita tentang 2 orang yang saling mencintai. Namun hubungan percintaan itu mulai berantakan ketika si cowok mengetahui bahwa pacarnya sekarang menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) dan terjangkit virus HIV terang sang produser, Khairul Mustofa. Alhamdulillah film pendek ini sudah beberapa diputar diberbagai kota, harapanya di Kendal film ini akan mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat imbuhnya.

Kisah Cinta Malam Ini selesai diputar, belanjut pada film pendek kedua yang berjudul Manuk. Manuk menceritakan suatu kondisi dimana konotasi kata manuk yang berbeda antara anak-anak dan orang dewasa. Awal mula saya terpikir ingin membuat film pendek berjudul Manuk ini terinspirasi ketika saya ngopi sambil ngobrol bersama teman-teman saya. Memang kata Manuk itu kalau di Jawa mempunyai konotasi kata yang berbeda. Makanya saya tertarik untuk menggarap film ini kata Ego, sutradara Film Manuk.

Setelah film Manuk selesai diputar, berlanjut ke film terakhir yang berjudul Jalan Menuju Pulang. Film ini digarap terinspirasi dari mitos masyarakat sekitar Kangkung bahwa orang yang melewati sebuah makam yang berada di Desa Kemangi Kecamatan Kangkung terkadang susah untuk menemui jalan pulang. Cerita soal orang yang tidak bisa menemukan jalan pulang bahkan hilang saat melewati makam Kemangi, mungkin sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Kendal. Kejadian tersebut dipercaya masyarakat bahwa ada pengaruh makhluk dari dunia lain. Makanya saya terinspirasi untuk menggarap ini. Mungkin ini adalah film yang Kenda banget lah. Kata produser film, Bagus Pradita.

Saat diskusi, RKFK Kendal menjelaskan bahwa kurangnya apresiasi terhadap perfilman karya anak bangsa menjadi suatu kendala mereka untuk berkarya. Namun meskipun begitu, mereka tetap terus mempromosikan filmnya dan mengedukasi masyarakat agar lebih bisa mengapresiasi sebuah film. Cara yang mereka lakukan antara lain parade pemutaran film keliling dari desa ke desa dan juga pemutaran film beserta workshop film di sekolah-sekolah yang ada di Kendal.

Setelah ketiga film tersebut diputar dan diskusi selesai, acara Jurasik #11 dilanjutkan dengan perform musik oleh BKR n’ Friends. Perform musik ini untuk meleburkan suasana seusai diskusi berlangsung. Rumah Kreatif Film Kendal berharap karya demi karya didunia perfilman akan terus mereka buat dan masyarakat agar lebih bisa mengapresiasi film. (Dok. Jurasik)

Wayang Gaga dan Gamelan Tempa di Jurasik

Kali kesepuluh, JURASIK (Jumat Sore Asik) menghampiri mata khalayak. Pada 25 Mei 2018, di bulan suci Ramadan ini, tidak menjadi halangan bagi para pegiat seni dan budaya Kendal untuk menyengkuyung gelatan mingguan yang diberi nama Jurasik ini. Sejak sore hari, para pegiat telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyiapkan penyelenggaraan acara yang hendak digulirkan malam harinya. Bahkan, didapati beberapa pegiat rela ngabuburit dan sekaligus berbuka puasa di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, tempat yang digunakan sebagai ruang penyelenggaraan gelaran seni budaya yang tak sebatas selebrasi semata itu.

Selepas waktu salat tarawih, gedung kecil mungil serupa gedung Taman Kanak-Kanak yang dikenal sebagai gedung BKR yang berada di belakang GOR Bahurekso tersebut, halamannya tersulap menjadi sebuah panggung yang lain dari biasanya. Kini didapati batang pohon pisang yang dibaringkan, serta didapati kain hitam yang dibentangkan berdiri sekitar satu meter. Kita pun lekas bisa menebak, jika panggung tersebut adalah panggung wayang. Dikarenakan, ada beberapa wayang di sekitar area. Serta terdapat batang pohon pisang, yang sudah pasti akan digunakan oleh seorang dalang untuk menancapkan wayang-wayangnya.

Meskipun, kita tidak akan pernah dihadapkan pada sebuah pertunjukan wayang pakem dalam pertunjukan tersebut. Kali ini, hadir suguhan wayang kontemporer, yakni Gaga dari Mijen Semarang. Sebuah kelompok wayang kontemporer yang memanfaatkan bahan-bahan dari kebun (gaga) untuk menciptakan wayang-wayangnya.

Dalam produksinya, Wayang Gaga memanfaatkan alang-alang dari kebun di sekitar tempat tinggal para pegiatnya. Alang-alang yang digunakan sepenuhnya sebagai bahan penciptaan wayang-wayangnya.

Ada sedikit yang beda dengan pertunjukan wayang pada umumnya. Jika biasanya didapati beragam wayang dan dimainkan oleh seorang dalang, namun kali ini setiap dalang bertugas memainkan satu wayang yang dipegangnya.

Para pegiat Wayang Gaga yang pentas pada malam itu, di antaranya, Pambuko Septiardri (Patih Pambuko, Gandos Percil), Teguh Ramadani (Bayan, Wayang Mbah Tarjo), Surya Cahyono (Kampret, Pliyuk), Rahmat Kurniawan (Kantong Bolong, Prabu Tanjung, Patih Sucelo), dan Jeny Dwi Pangestu (Ilustrasi, Kentrung).

Kami memainkan wayang dengan kisah-kisah keseharian. Tentu sangat terkait dengan banyak hal yang kita amati, kita lihat, atau bahkan yang begitu dekat dan kita alami sendiri. Sangat sering kami mengilhami kisah-kisah yang kita tangkap dari apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tutur Ki Pambuko.

Bagi Ki Pambuko, hingga pertunjukan yang berlangsung malam itu, mereka telah melewati banyak proses. Segalanya dijadikan sebagai sebuah pertimbangan tersendiri guna mengejar pencapaian makna dan estetika tertentu dalam pertunjukannya. Maka tidak heran, jika barangkali mereka telah melewati berbagai penemuan, baik konsep maupun bentuk yang disuguhkan dalam setiap perrunjukannya.

Pada pertunjukan kali ini, yang kami hadirkan di acara Jurasik ini, kami sebenarnya tidak menjalani latihan khusus. Karena permainan kami cukup merespon apa yang ada di tempat yang kami kunjungi. Misalnya di antara para pegiat seni budaya dan masyarakat di Kendal ini. Kami upayakan untuk berbincang terlebih dahulu dengan para pegiat. Apa yang terjadi, bagaimana keadaan di sini, lalu juga terkait hal lain yang bisa memperkuat pondasi kisah yang hendak kami tampilkan, tutur Teguh Ramadani, atau yang biasa akrab disapa Pakdhe.

Terbukti, pertunjukan yang disajikan Wayang Gaga begitu interaktif, dan seolah telah mampu memahami kondisi dan banyak hal yang sekiranya dialami oleh para penonton di Kendal. Para penonton telah turut serta merespon, menanggapi, dan nyletuk jika didapati bagian yang berhubungan langsung dengan keseharian mereka atau yang dikira begitu dengan dengan kondisi yang sedang dialami saat-saat ini.

Intinya, dan pada dasarnya, pertunjukan yang kami hadirkan adalah pertunjukan santai. Yang biasa juga kami suguhkan di hadapan anak-anak. Tentu sedemikian rupa harus kami hadirkan dengan cair, penuh dengan bumbu-bumbu lelucon pula, imbuh Ki Pambuko.

Selain pertunjukan Wayang Gaga tersebut, dalan gelaran Jurasik #10 ini dihadirkan pula sebuah kelompok musik yang bisa dibilang sangat baru. Dikarenakan baru saja terbentuk. Bahkan group ini dilahirkan atas pertemuan beberapa pegiat yang kerap ngopi dan berbincang di BKR. Group tersebut bernama Gamelan Tempa. Merupakan sebuah nama atas akronim dari Majelis Maiyah Tembang Pepadhang (Tempa), sebuah group musik yang dipadukan antara alat musik modern dengan alat musik tradisional.

Pada kesempatan tersebut, Gamelan Tempa menyuguhkan beberapa lagu yang bisa dianggap aangat cocok dengan suasana Ramadan. Yakni lagu-lagu yang berkesan menenteramkan jiwa khalayak yang hadir. Lagu-lagu tersebut di antaranya, Ya Asyiqol Mustofa, Sholatum Bissalabil Mubien, Yang Patah Tumbuh (Banda Neira), Risalah Hati (Dewa), Sebelum Cahaya (Letto), Sugih Tanpa Banda (Sujiwo Tejo). (Dok. Jurasik)

1 2 3 5