Layar Tancap dari Rumah Kreatif Film Kendal dan Patungan Film di Jurasik

Jumat 1 Juni 2018, Balai Kesenian Remaja Kendal kembali menggelar acara Jurasik (Jumat Sore Asik). Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila dan Bulan Suci Ramadhan, nyatanya tidak menyurutkan semangat para warga Kendal khususnya para pemuda untuk melestarikan kesenian yang ada di kota ini. Malah, frekuensi peserta yang hadir di Jurasik kali ini lebih banyak dari biasanya. Alhamdulillah meskipun bulan puasa, semangat dan antusias dari temen-temen untuk acara Jurasik ini tetap luar biasa. Semoga acara ini semakin menambah keberkahan di bulan yang suci ini kata Tanjung selaku koordinator acara Jurasik.

Jurasik edisi ke-11 ini menghadirkan komunitas yang cukup terkenal di Kendal, yaitu Rumah Kreatif Film Kendal (RKFK) dan juga menampilkan sebuah hiburan akustik dari BKR n’ Friends. RKFK terkenal di Kabupaten Kendal karena karya-karyanya di dunia perfilman. Sebut saja film yang pernah menggegerkan khalayak pemuda Kendal dengan rilisnya film Pacar Bukan Bojo yang sempat di tayangkan di Gor Bahurekso Kendal beberapa waktu lalu. Atau yang baru-baru ini RKFK membuat film yang berjudul Reksa.

Usai sukses menggarap 2 film yang sempat booming di Kendal tersebut, RKFK kembali meneruskan karya-karyanya. Di Jurasik ini, selain untuk menjadi narasumber diskusi, RKFK juga memutarkan film pendek terbarunya yang berjudul Kisah Cinta Malam Ini, Manuk, dan Jalan Menuju Pulang.

Pemutaran film yang pertama yaitu film Kisah Cinta Malam ini yang menceritakan 2 sejoli yang menjalin sebuah hubungan asmara. Kisah Cinta Malam Ini bercerita tentang 2 orang yang saling mencintai. Namun hubungan percintaan itu mulai berantakan ketika si cowok mengetahui bahwa pacarnya sekarang menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) dan terjangkit virus HIV terang sang produser, Khairul Mustofa. Alhamdulillah film pendek ini sudah beberapa diputar diberbagai kota, harapanya di Kendal film ini akan mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat imbuhnya.

Kisah Cinta Malam Ini selesai diputar, belanjut pada film pendek kedua yang berjudul Manuk. Manuk menceritakan suatu kondisi dimana konotasi kata manuk yang berbeda antara anak-anak dan orang dewasa. Awal mula saya terpikir ingin membuat film pendek berjudul Manuk ini terinspirasi ketika saya ngopi sambil ngobrol bersama teman-teman saya. Memang kata Manuk itu kalau di Jawa mempunyai konotasi kata yang berbeda. Makanya saya tertarik untuk menggarap film ini kata Ego, sutradara Film Manuk.

Setelah film Manuk selesai diputar, berlanjut ke film terakhir yang berjudul Jalan Menuju Pulang. Film ini digarap terinspirasi dari mitos masyarakat sekitar Kangkung bahwa orang yang melewati sebuah makam yang berada di Desa Kemangi Kecamatan Kangkung terkadang susah untuk menemui jalan pulang. Cerita soal orang yang tidak bisa menemukan jalan pulang bahkan hilang saat melewati makam Kemangi, mungkin sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Kendal. Kejadian tersebut dipercaya masyarakat bahwa ada pengaruh makhluk dari dunia lain. Makanya saya terinspirasi untuk menggarap ini. Mungkin ini adalah film yang Kenda banget lah. Kata produser film, Bagus Pradita.

Saat diskusi, RKFK Kendal menjelaskan bahwa kurangnya apresiasi terhadap perfilman karya anak bangsa menjadi suatu kendala mereka untuk berkarya. Namun meskipun begitu, mereka tetap terus mempromosikan filmnya dan mengedukasi masyarakat agar lebih bisa mengapresiasi sebuah film. Cara yang mereka lakukan antara lain parade pemutaran film keliling dari desa ke desa dan juga pemutaran film beserta workshop film di sekolah-sekolah yang ada di Kendal.

Setelah ketiga film tersebut diputar dan diskusi selesai, acara Jurasik #11 dilanjutkan dengan perform musik oleh BKR n’ Friends. Perform musik ini untuk meleburkan suasana seusai diskusi berlangsung. Rumah Kreatif Film Kendal berharap karya demi karya didunia perfilman akan terus mereka buat dan masyarakat agar lebih bisa mengapresiasi film. (Dok. Jurasik)

Wayang Gaga dan Gamelan Tempa di Jurasik

Kali kesepuluh, JURASIK (Jumat Sore Asik) menghampiri mata khalayak. Pada 25 Mei 2018, di bulan suci Ramadan ini, tidak menjadi halangan bagi para pegiat seni dan budaya Kendal untuk menyengkuyung gelatan mingguan yang diberi nama Jurasik ini. Sejak sore hari, para pegiat telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyiapkan penyelenggaraan acara yang hendak digulirkan malam harinya. Bahkan, didapati beberapa pegiat rela ngabuburit dan sekaligus berbuka puasa di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, tempat yang digunakan sebagai ruang penyelenggaraan gelaran seni budaya yang tak sebatas selebrasi semata itu.

Selepas waktu salat tarawih, gedung kecil mungil serupa gedung Taman Kanak-Kanak yang dikenal sebagai gedung BKR yang berada di belakang GOR Bahurekso tersebut, halamannya tersulap menjadi sebuah panggung yang lain dari biasanya. Kini didapati batang pohon pisang yang dibaringkan, serta didapati kain hitam yang dibentangkan berdiri sekitar satu meter. Kita pun lekas bisa menebak, jika panggung tersebut adalah panggung wayang. Dikarenakan, ada beberapa wayang di sekitar area. Serta terdapat batang pohon pisang, yang sudah pasti akan digunakan oleh seorang dalang untuk menancapkan wayang-wayangnya.

Meskipun, kita tidak akan pernah dihadapkan pada sebuah pertunjukan wayang pakem dalam pertunjukan tersebut. Kali ini, hadir suguhan wayang kontemporer, yakni Gaga dari Mijen Semarang. Sebuah kelompok wayang kontemporer yang memanfaatkan bahan-bahan dari kebun (gaga) untuk menciptakan wayang-wayangnya.

Dalam produksinya, Wayang Gaga memanfaatkan alang-alang dari kebun di sekitar tempat tinggal para pegiatnya. Alang-alang yang digunakan sepenuhnya sebagai bahan penciptaan wayang-wayangnya.

Ada sedikit yang beda dengan pertunjukan wayang pada umumnya. Jika biasanya didapati beragam wayang dan dimainkan oleh seorang dalang, namun kali ini setiap dalang bertugas memainkan satu wayang yang dipegangnya.

Para pegiat Wayang Gaga yang pentas pada malam itu, di antaranya, Pambuko Septiardri (Patih Pambuko, Gandos Percil), Teguh Ramadani (Bayan, Wayang Mbah Tarjo), Surya Cahyono (Kampret, Pliyuk), Rahmat Kurniawan (Kantong Bolong, Prabu Tanjung, Patih Sucelo), dan Jeny Dwi Pangestu (Ilustrasi, Kentrung).

Kami memainkan wayang dengan kisah-kisah keseharian. Tentu sangat terkait dengan banyak hal yang kita amati, kita lihat, atau bahkan yang begitu dekat dan kita alami sendiri. Sangat sering kami mengilhami kisah-kisah yang kita tangkap dari apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tutur Ki Pambuko.

Bagi Ki Pambuko, hingga pertunjukan yang berlangsung malam itu, mereka telah melewati banyak proses. Segalanya dijadikan sebagai sebuah pertimbangan tersendiri guna mengejar pencapaian makna dan estetika tertentu dalam pertunjukannya. Maka tidak heran, jika barangkali mereka telah melewati berbagai penemuan, baik konsep maupun bentuk yang disuguhkan dalam setiap perrunjukannya.

Pada pertunjukan kali ini, yang kami hadirkan di acara Jurasik ini, kami sebenarnya tidak menjalani latihan khusus. Karena permainan kami cukup merespon apa yang ada di tempat yang kami kunjungi. Misalnya di antara para pegiat seni budaya dan masyarakat di Kendal ini. Kami upayakan untuk berbincang terlebih dahulu dengan para pegiat. Apa yang terjadi, bagaimana keadaan di sini, lalu juga terkait hal lain yang bisa memperkuat pondasi kisah yang hendak kami tampilkan, tutur Teguh Ramadani, atau yang biasa akrab disapa Pakdhe.

Terbukti, pertunjukan yang disajikan Wayang Gaga begitu interaktif, dan seolah telah mampu memahami kondisi dan banyak hal yang sekiranya dialami oleh para penonton di Kendal. Para penonton telah turut serta merespon, menanggapi, dan nyletuk jika didapati bagian yang berhubungan langsung dengan keseharian mereka atau yang dikira begitu dengan dengan kondisi yang sedang dialami saat-saat ini.

Intinya, dan pada dasarnya, pertunjukan yang kami hadirkan adalah pertunjukan santai. Yang biasa juga kami suguhkan di hadapan anak-anak. Tentu sedemikian rupa harus kami hadirkan dengan cair, penuh dengan bumbu-bumbu lelucon pula, imbuh Ki Pambuko.

Selain pertunjukan Wayang Gaga tersebut, dalan gelaran Jurasik #10 ini dihadirkan pula sebuah kelompok musik yang bisa dibilang sangat baru. Dikarenakan baru saja terbentuk. Bahkan group ini dilahirkan atas pertemuan beberapa pegiat yang kerap ngopi dan berbincang di BKR. Group tersebut bernama Gamelan Tempa. Merupakan sebuah nama atas akronim dari Majelis Maiyah Tembang Pepadhang (Tempa), sebuah group musik yang dipadukan antara alat musik modern dengan alat musik tradisional.

Pada kesempatan tersebut, Gamelan Tempa menyuguhkan beberapa lagu yang bisa dianggap aangat cocok dengan suasana Ramadan. Yakni lagu-lagu yang berkesan menenteramkan jiwa khalayak yang hadir. Lagu-lagu tersebut di antaranya, Ya Asyiqol Mustofa, Sholatum Bissalabil Mubien, Yang Patah Tumbuh (Banda Neira), Risalah Hati (Dewa), Sebelum Cahaya (Letto), Sugih Tanpa Banda (Sujiwo Tejo). (Dok. Jurasik)

Lesbumi Kendal Obrolkan Ramadhan di Kampung Halaman

Ramadhan di Kampung Halaman menjadi tema obrolan dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kendal, pada Jumat, 18 Mei 2018 di gelaran Jurasik (Jumat Sore Asik), yang bertempat di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Obrolan kali ini merupakan forum diskusi kedua yang diselenggarakan Lesbumi Kendal. Selepas sebelumnya menghadirkan tema Orang Kalang di Kendal.

“Obrolan ini adalah salah satu program kegiatan kami, yakni Lesbumi ingin senantiasa menyelenggarakan diskusi-diskusi terkait kesenian dan kebudayaan, khususnya yang berkembang di Kendal. Namun kali ini agak berbeda, obrolan yang kami selenggarakan merupakan langkah awal menuju penerbitan sebuah buku kumpulan esai dari teman-teman pegiat seni budaya di Kendal. Obrolan ini kami ajukan sebagai pemantik, nah selepas ini kami akan menghimpun tulisan-tulisan dari siapa saja, atau khususnya bagi yang hadir malam ini untuk turut serta menulis esai tentang tema Ramadan di Kampung Halaman,” ungkap Muslichin HN, Ketua Lesbumi Kendal, malam itu.

Bagi Muslichin, tulisan yang terhimpun tersebut nantinya akan dibukukan, dan rencananya akan diluncurkan pada saat momen Syawalan. “Agar kelak pada saat acara Halal Bihalal misalnya, kami tidak sekadar menyelenggarakan ritual salaman dan bermaaf-maafan semata. Namun ada salam tempel, dengan memberikan buku karya teman-teman pegiat seni budaya Kendal, yang mengisahkan banyak hal perihal tema-tema yang masih sangat begitu dekat dengan kampung halamannya masing-masing,” tutur Musluchin, yang juga merupakan seorang guru Sejarah di SMA N 2 Kendal.

Pada kesempatan obrolan tersebut, dibagikanlah sebuah selebaran tulisan pemantik tentang tema Ramadan di Kampung Halaman. Tulisan tersebut ditulis oleh Muslichin HN dan Setia Naka Andrian. Kedua tulisan tersebut sebagai upaya dari para pegiat Lesbumi Kendal, bahwasanya tulisan-tulisan yang hendak dihimpun dan selanjutnya akan dibukukan tersebut adalah tulisan yang sederhana. Masih sangat begitu dekat dengan segala hal yang kerap dialami oleh para hadirin obrolan yang memadati gelaran Jurasik di gedung BKR yang tua dan kecil itu.

“Ini merupakan upaya sederhana bagi kami untuk, setidaknya memberikan warisan bagi generasi selepas kami. Paling tidak akan didapati narasi-narasi yang meriwayatkan kearifan kampung halaman di Kabupaten Kendal ini. Kami pun tidak muluk-muluk harus menjangkau semua lapiran masyarakat dan semua wilayah di Kendal ini. Kalau bersikeras begitu, maka ya akhirnya program penghimpunan tulisan tentang Ramadan di Kampung Halaman ini tidak akan pernah usai. Maka ya, yang terkumpul, entah berapa pun yang turut menulis, nanti akan tetap kami bukukan. Jadi kelak akan menjadi sebuah pembukukan berseri dari Lesbumi Kendal ini,” ungkap Setia Naka Andrian, penyair dan juga seorang pengajar di Universitas PGRI Semarang.

Bagi Naka, tema tentang kampung halaman tentulah akan bersinggungan dengan bagaimana sebuah kampung di sebuah desa yang begitu lekat dengan keramahan, kesederhanaan, kepedulian, sikap saling berbagi dan memberi, saling menjaga, dan banyak hal lain sebagai laku adiluhung yang dijalankan oleh segenap warga masyarakat. Kampung halaman juga tak dapat lepas dari segala hal terkait kampung yang digunakan oleh para perantau untuk berpulang, untuk kembali, untuk mengenang banyak hal perihal peristiwa kebudayaan, sosial, politik dan apa saja yang tersimpan erat di sebuah kampung. Tentu, dalam obrolan yang berlangsung, juga kerap bergulir kegelisahan dan ketakutan-ketakutan jika saat zaman semakin semakin bergerak, maka segala yang dimiliki kampung halaman kerap kali kian semakin hilang, luntur, dan bahkan tanpa menyisakan bekas apa pun.

“Barangkali ada yang bakal kita takutkan, kelak suatu saat, ketika kita sudah tiada lagi membedakan mana kampung halaman dan mana kota perantauan. Jika segalanya telah berubah. Tak ada bedanya antara kampung kita berpulang dengan kota perantauan kita. Tiada kenangan dan tiada peristiwa yang dapar menyeret kita untuk berpulang. Tiada bedanya laku manusia, pola hidupnya, bahkan segala aktivitas kesehariannya. Misalnya pada saat Ramadan semacam ini, kita semakin sulit membedakan dengan bulan-bulan lainnya, sama saja dengan bulan-bulan sebelumnya. Atau bahkan sama saja dengan Ramadan yang ada di daerah lain, atau sama saja dengan Ramadan di kota-kota,” ungkap Akhmad Sofyan Hadi, direktur artistik Jarak Dekat Kendal.

Obrolan yang diselenggarakan oleh Lesbumi Kendal dan didukung sepenuhnya oleh gelaran mingguan Jurasik ini berlangsung begitu hangat. Bulan puasa tidak menyurutkan masyarakat untuk melewatkan acara ini. Meski tidak seperti biasanya, acara dimulai selepas salat tarawih, dan usai hingga tengah malam, bahkan obrolan yang bergulir selepas acara resmi ditutup telah berlangsung hingga dini hari, hingga hampir menjelang waktu santap sahur.

“Jurasik akan berupaya untuk selalu hadir, atau terselenggara setiap hari Jumat. Apa pun Jumatnya, Jurasik akan selalu berupaya untuk menyuguhkan konten-konten acara yang diisi oleh pegiat atau komunitas yang berbeda-beda. Misalnya malam ini, selain suguhan obrolan dari Lesbumi Kendal, juga ada penampilan tari kontemporer dari Pekerja Seni Tari (PST) Netra, yang begitu kuatnya menampilkan tari-tari kontemporer. Ada upaya pula dari Jurasik, untuk membuat forum ini sebagai ajang bertemu dan berkenalan. Misalnya saja group tari yang pentas kali ini, masih dibilang group tari yang masih berusia belia. Baru saja terbentuk, mereka yang berkesempatan pentas tari malam ini, di antaranya Citra Heidy Ratnasari sma Intan Prisdiyana, Etika Tiara Rizqi Azizah. Selain penampilan tari kontemporer tersebut, didapati pula penampilan olah tubuh dari kelompok pencak silat Pagarnusa serta penampilan musik akustik dari BKR And Friends,” pungkas Tanjung Alim Sucahya, salah seorang pegiat Jurasik. (Dok. Jurasik)

1 2 3 4